Bandung, KompasOtomotif – Setelah diluncurkan di Hotel Hilton, Bandung, Jawa Barat (4/5), esoknya KompasOtomotif berkesempatan mencicipi kinerja Suzuki Shooter, sepeda motor bebek termurah injeksi yang diklaim PT Suzuki Indomobil Sales (SIS) paling irit di kelasnya.
Untuk menambah semarak peluncuran, SIS mengadakan drag race di Lapangan Brigif 15 Kujang II, Cimahi, Jawa Barat (5/5). Sebelumnya, KompasOtomotif dan beberapa media lain, sempat menguji kemampuan bebek ini "ngacir" di jalur balap.
Ternyata, tarikan awal sepeda motor bermesin 113 cc, tenaga 9,3 PS @8.000 rpm dan torsi puncak 9,1 Nm @6.000 rpm ini, di luar dugaan. Pasalnya, perbandingan gigi diset secara tidak lazim: pendek (rapat) untuk gigi satu, menengah buat gigi dua dan panjang untuk gigi tiga. Saat digeber pada gigi satu, putaran mesin naik dengan cepat dan harus segera pindah ke gigi dua dan tiga.
Nafas
Pada gigi dua, nafas motor ini sangat panjang. Lintasan drag 400 meter (200 untuk menggeber, 200 untuk mengerem), pada gigi 3 dan sudah sampai diujung lintas dan mencapai gigi 4 dengan kecepatan di atas 100 kpj.
Dari sinilah baru dipahami penjelasan Minoru Hirihara, Assistant Chief Engineer Motorcycle Product Planning Department Suzuki Motor Corporation Jepang. Dijelaskan, gigi satu, bagus untuk akselerasi, gigi dua buat menambah kecepatan.
"Gigi satu baik untuk lalu lintas di dalam kota. Karena torsi besar di dapat lebih cepat, konsumsi bahan bakar jadi irit. Gigi tiga untuk menambah kecepatan, dan empat untuk mempertahankan kecepatan puncak," jelasnya.
Pembuktian sesungguhnya dilakukan saat turing dari Cimahi ke Tangkuban Perahu. Karena jumlah sepeda motor terbatas, KompasOtomotif hanya berkesempatan menjajal di sekitar resto Sindang Reret, Lembang dan garis finish.
Di Tanjakan
Di Lembang, kesempatan mengukur kemampuan menanjak dan menikung sangat besar. KompasOtomotif merasakan, setiap jengkal bodinya dengan seksama. Jok terasa ergonomis saat diduduki! Begitu juga dengan pijakan kaki dan setang, terasa nyaman. Jarak antara permukaan jok ke tanah cukup tinggi. Karena itu, KompasOtomotif dengan postur 171 cm menjejakkan kaki ke tanah harus jinjit sedikit.
Saat digeber di tanjakan, kelemahan gigi 2 dan 3 mulai dirasakan. Karena perbandingannyapanjang, untuk melibas tanjakan butuh momentum. Alangkah baik, gigi dua diset dengan perbandingan lebih pendek.
Lokasi tes yang banyak lubang, juga dimanfaatkan untuk menguji suspensi. Ternyata, nyaman, khususnya suspensi depan: tidak hanya dapat meredam getaran dengan juga menimbulkan pantulan (goncangan) lembut. Sebenarnya, bila suspensi belakang sedikit lebih keras, pengendalian menjadi lebih mantap!
Add to Cart