INILAH.COM, Jakarta- Air bersih nyatanya masih menjadi kendala utama untuk mewujudkan kebersihan dan kesehatan di lingkungan kita.
Pusat kesehatan seperti rumah sakit atau puskesmas yang seharusnya juga mengutamakan kebersihan ternyata tak mampu karena minimnya air bersih yang disediakan.
"Ini yang saya temukan dari 20 rumah sakit dan 40 puskesmas yang saya kunjungi. Saya terpaksa harus menahan kencing karena menjadi sangat menakutkan ketika melihat kondisi toilet di rumah sakit," ujar Dr. dr. Dwiyana Ocviyanti Sp.O.G (spesialis kandungan) dalam talkshow peningkatan kualitas dan akses air bersih dan sanitasi yang diadakan Coca Cola di Jakarta, Kamis (2/5/2013). [mor]
Ocvi menyayangkan berbagai alasan yang dikemukakan oleh pusat kesehatan itu terkait minimnya air bersih yaitu karena mereka kesulitan mendapatkan air bersih sehingga pihak rumah sakit dan puskesmas harus benar-benar berhemat.
"Rumah sakit berhemat, pasien jadi ikut-ikutan berhemat. Pernah saya temukan rumah sakit tidak menggunakan seprei untuk menutup kasur pasien dengan alasan mereka tidak bisa mencucinya karena kurangnya air bersih, mereka memilih memakai bahan yang langsung sekali buang. Sementara pasiennya juga berhemat, jadi hemat mandi dengan alasan juga karena tidak ada air bersih," sesalnya.
Padahal, meski dokter dan peralatan medis yang dimiliki pusat kesehatan lengkap, namun jika tanpa dilengkapi fasilitas air bersih maka ini tidak mendukung upaya kesehatan itu sendiri.
"Rumah sakit kalau kamar mandinya bersih maka semuanya (pelayanan) akan beres. Bagaimana ini menjadi tempat yang menyehatkan, kalau rumah sakitnya saja kotor, banyak penyakit yang bisa ditimbulkan hanya karena misalnya kita tidak mencuci tangan. Tidak perlu bicara alat-alat kesehatan yang lengkap kalau perawatnya saja tidak bisa mencuci tangan karena tidak ada air bersih," tandasnya.
Add to Cart