Jumat, 15 Februari 2013

Ulil: Butuh Tindakan Sangat Drastis Selamatkan Partai


JAKARTA, KOMPAS.com - Ketua Pusat Pengembangan Strategi dan Kebijakan DPP Partai Demokrat Ulil Abshar Abdalla mengatakan butuh tindakan sangat drastis untuk menyelamatkan Partai Demokrat menjelang Pemilu 2014. Apalagi saat ini elektabilitas partai sedang terpuruk berdasarkan beragam hasil survei.


"Saya menganggap angka 8,3 persen itu angka serius sekali. Tidak mudah dalam waktu kurang dari satu setengah tahun untuk menaikkan minimal 21 persen yang diraih Demokrat pada 2009. Itu sulit sekali. Kalau tidak ada tindakan yang drastis sekali, itu tidak mungkin," papar Ulil seusai diskusi 'Pemulihan Partai Demokrat' di Jakarta, Jumat (15/2/2013). Angka 8,3 persen yang dia kutip merupakan hasil survei dari Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) yang dilansir beberapa waktu lalu.


Menurut Ulil, langkah yang diambil Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono, sudah tepat dan drastis. Ulil merujuk pada langkah SBY yang mengambil alih partai, meminta Anas fokus pada dugaan kasus hukum di KPK, dan penandatanganan pakta integritas oleh seluruh jajaran pengurus Partai Demokrat.


Ulil menambahkan, tindakan SBY sebagai Ketua Majelis tinggi cukup tegas. Ia mengklaim saat ini hanya ada satu kubu di Demokrat, yakni kubu SBY. Hal itu dibuktikan pada penandatangan pakta integritas yang dilakukan Majelis Tinggi, Ketua DPD, hingga seluruh pengurus PD, disusul Anas sebagai Ketua Umum DPP Partai Demokrat.


"Saya senang sekali proses partai Demokrat seperti ini, walaupun ada sedikit gesekan-gesekan. Tapi pada akhirnya semua tunduk pada otoritas Majelis Tinggi Partai. Itu penting, karena kalau tidak ada begitu, partai pecah. Itu kita yang rugi. Bukan hanya dewan yang rugi, rakyat juga rugi," ujar dia.


Berdasarkan beberapa hasil survei menjelang Pemilu 2014, elektabilitas Partai Demokrat memang terus merosot diduga akibat para politisinya tersandung kasus korupsi. Sebut saja Muhammad Nazaruddin, Angelina Sondakh, Hartati Murdaya, dan Andi Alfian Mallarangeng.


Berita terkait dapat dibaca pada topik: Krisis Demokrat






Editor :


Palupi Annisa Auliani









Add to Cart