Jakarta, KompasOtomotif - VW Indonesia menghadirkan Rainer Zietlow (Jerman), petualang kelas dunia, yang telah berhasil memecahkan rekor lintas 9 negara dengan waktu 17 hari menggunakan Touareg. Total jarak 23.000 km yang ditempuh dengan mengonsumsi 2.400 liter solar.
"Kami sangat bangga karena Touareg mampu menuntaskan perjalanan ini tanpa halangan berarti. Tapi bagi saya, hal paling membanggakan adalah bisa memperkenalkan pada dunia negara kepulauan kita ini," ujar Andrew Nasuri, Presiden Direktur dan CEO Garuda Mataram Motor, dalam acara ramah tamah di Kawasan SCBD, Jakarta Selatan, sore tadi (4/1).
Perjalanan dimulai 27 Juli 2012 dari Melbourne, Australia hingga St. Petersburg, Rusia dengan melewati 7 negara. Antara lain Timor Timur, Indonesia, Malaysia, Thailand, Laos, China dan Kazakhstan. Dalam perjalanannya tersebut Rainer mengemban tugas mengirimkan surat dari Walikota Melbourne ke pemimpin kota St. Petersburg, dalam rangka merayakan hari jadi Melbourne yang 175 dan St. Petersburg ke 23.
Dalam petualangannya Rainer ditemani Vladimir Gagarin (Rusia) dan Marius Biela (Jerman). Beragam kondisi jalan dan budaya lalu lintas telah dilalui. Termasuk beberapa jalan di Tanah Air. "Menyusuri jalan di Indonesia selama 6 hari, bagi saya merupakan pengalaman tak terlupakan. Paling menyenangkan adalah saat melintasi Flores dengan karakter unik dan sangat menantang, baik tikungan dan juga tanjakan-turunan yang cukup ekstrem," papar Rainer.
Untuk mobilnya sendiri tidak ada modifikasi yang dilakukan. Semua masih menggunakan standar pabrik. Hanya kabin dilindungi rollcage untuk alasan keselamatan. Selain itu ada tangki tambahan dengan volume 280 liter.
Selama perjalanan, Touareg telah melakukan isi ulang 8 kali dengan kapasitas tangki terisi penuh 300 liter. Dikatakan, spesifikasi Pertamina DEX yang digunakan cukup baik dan Pertamina memberikan kemudahan untuk mendapatkannya.
"Saat itu kami harus melakukan pengisian di Flores dan di sana tidak ada DEX. Lalu Pertamina mengirimkannya khusus untuk kami," beber Rainer. Kadar bahan bakar paling buruk, lanjut Rainer, adalah saat berada di China, dan harus menambahkan aditif.
Add to Cart