INILAH.COM, Jakarta - Pengembangan bisnis ritel apotek terus berkembang pesat, tak hanya di sekitar lingkungan rumah atau dekat perkantoran, melainkan kian mudah ditemui di sejumlah pusat perbelanjaan.
Ironisnya, peran apoteker dalam dunia kesehatan seringkali diabaikan oleh pemerintah.
Ketua Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) Dani Pratomo mengungkapkan hal ini dalam acara Media Gathering paparan soal hasil Rakernas Sistem Jaminan Sosial (SJSN) di Jakarta, Senin (25/2).
Menurutnya, saat ini apoteker masih dilihat hanya sebagai penjual obat atau bahkan pembantu penjual obat. Padahal apoteker merupakan profesi kesehatan yang penting dalam mendukung pemerintah melaksanakan amanat UU SJSN.
"Pemerintah melupakan peran penting apoteker terutama dalam menyusun kerangka infrastuktur ke arah pelayanan kesehatan semesta seperti yang diamanatkan dalam UU Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN)," jelasnya.
Lebih jauh, Dani menguraikan, apoteker belum dilihat sebagai salah satu mitra profesi kesehatan di dalam SJSN. Karena itu, pemerintah perlu untuk menata peranan dan posisi Apoteker dalam tatanan SJSN bukan hanya sekedar dilihat hanya sebagai penjual obat.
"Jasa apoteker tidak diperhitungkan di dalamnya," ujar Dani. Padahal, lanjut Dani, berdasarkan pasal 108 UU No 36/2009 tentang Kesehatan, segala pelayanan kesehatan yang berhubungan dengan obat harus dilakukan oleh seorang apoteker.
Secara profesi, apoteker menunjang hasil diagnosa dari dokter dengan memberikan pendapa dari segi efektivitas pengobatan dan konerja obat tersebut.
Penghematan Rumah Sakit (RS)
Dani menambahkan,jika profesi apoteker diberi peranan yang memadai dalam kerangka SJSN, apoteker dapat membantu penghematan pengeluaran Rumah Sakit dalam hal pembelian dan pengadaan obat. “Apoteker adalah profesi yang mempelajari mengenai obat-obatan. Kelebihan dan kekurangan suatu molekul obat merupakan bidang yang dikuasai oleh apoteker.
Karena itu jika apoteker diberi peran konsultatif dalam penatalaksanaan penyakit. "Kami akan dapat melakukan penyortiran dari molekul-molekul obat yang lebih dibutuhkan oleh RS dengan mempelajari demografi pasien yang berkunjung ke rumah sakit tersebut dan jenis penyakit yang sering ditangani oleh RS tersebut,” tambahnya.
Menurutnya, dengan demikian sistem pelayanan kesehatan yang menyeluruh bagi pasien dapat terwujud. “Dengan demikian, tingkat kepercayaan masyarakat terhadap pelayanan rumah sakit tersebut pun akan meningkat dan pendapatan bagi rumah sakit pun akan bertambah. Pengeluaran pun dapat ditekan sehingga akan tercapai penghematan yang efektif,” tutur Dani. [mor]
Add to Cart