Senin, 28 Januari 2013

Saling Tantang Sumpah Cor di IHDN Segera Diakhiri


INILAH.COM, Denpasar-Konflik internal beberapa oknum pejabat di lembaga pendidikan Institut Hindu Dharma Negeri (IHDN) Denpasar Bali terus bergulir. Rektor IHDN Prof Made Titib berjanji akan mempertemukan kedua bawahannya yang berseteru dan saling menantang hendak melakukan sumpah cor.

Titib mengaku perseteruan Made Redana dan Praptini membuatnya malu. Untuk itu, Titib akan mempertemukan keduanya untuk didamaikan serta dimediasi. "Besok Selasa, kami akan panggil keduanya. Kita juga akan pertemukan mereka dan kita akan tawarkan untuk berdamai agar sama-sama memaafkan," kata Titib, Senin (28/1/2013).

Terkait sumpah cor yang dibatalkannya, Titib berpandangan kasus korupsi tanpa dasar dan bukti kuat yang dituduhkan kepada Praptini oleh Made Redana sebaiknya dibiarkan dan diserahkan kepada Hukum Karmapala. "Karmapala berjalan, kalau ada yang melakukan kejahatan dia akan kena balasannya. Saya yakin itu dan kami percaya hukum karma," jelasnya.

Tantang menantang sumpah cor itu muncul antara lain karena Made Redana redana dimutasi dari Pembantu Rektor I menjadi dosen biasa. Mengenai hal ini, Titib mengaku kampus yang dipimpinnya sedang membutuhkan seorang dosen. "Kita butuhkan dia sebagai dosen, dia sangat memahami bidang ini," paparnya.

Titib menegaskan, penggantian jabatan itu untuk penyegaran. Meski begitu ia tidak membantah ada beberapa pertimbangan dalam pergeseran jabatan. Terkait dengan penyebab Made Redana diganti, menurutnya sudah dirancang sejak jauh hari sebelumnya. "Beberapa pejabat pensiun, kemudian pada program S2, S3 banyak yang belum terisi, S1 juga banyak program akreditasi. Jadi itu sudah kami rancang sebelumnya," terangnya.

Dalam mutasi tersebut, ada 16 pejabat IHDN yang digeser. Selain Made Redana yang digeser menjadi dosen biasa dan posisinya digantikan oleh DR Drs Wayan Wastawa mantan Asdir Lektor Kepala. Kemudian PR III, IB Candrawan, diganti oleh Ketut Wisarja mantan PR II. Sedangkan PR II dijabat oleh Dr Praptini yang sebelumnya adalah dosen.

Titib mengakui ada beberapa pertimbangan para bawahannya di mutasi seperti prestasi, dedikasi, loyalitas serta prilaku yang terpuji. "Empat hal ini menjadi pertimbangan kami," tegasnya.

Soal sumpah cor, Praptini mengaku tetap siap setiap saat. "Saya siap saja, sumpah cor-nya saya tetap menunggu, dia yang nantang saya, saya terima tantangannya, kalau saya nolak berarti saya seolah-olah terima (dana), jadi untuk menegakkan kebenaran kenapa tidak, saya berani sumpah cor," ungkapnya. [tjs]


Add to Cart