INILAH.COM, Jakarta - Banjir yang melanda Ibukota, mengakibatkan menurunnya pelayanan air bersih. Tercatat sebanyak 490 ribu pelanggan PAM nyaris tak dapat pasokan air bersih.
Dari 490 ribu pelanggan air PAM yang tak menerima suplai air bersih, diantaranya 250 ribu merupakan pelanggan Palyja dan 240 ribu pelanggan Aetra.
Corporate Communications and Social Responsibilities Head PT Palyja, Meyritha Maryanie mengatakan, sejak Jumat (18/1/2013) kemarin, sebagian besar pelanggan Palyja mengalami gangguan pasokan air bersih.
"Itu disebabkan terkontaminasinya air baku Kanal Tarum Barat atau Kali Malang yang merupakan sumber air baku PALYJA dan dikelola oleh Perum Jasa Tirta 2 (PJT 2)," kata Meyritha.
Dampak dari terhentinya pengolahan air bersih di IPA Pejompongan, adalah sekitar 60 persen atau sekitar 250 ribu pelanggan dari 410 ribu Palyja setara dengan konsumsi sekitar 1,5 juta orang, tidak menerima suplai air secara normal.
Hal senada diungkapkan Presiden Direktur PT Aetra Air Jakarta, Mohamad Selim. Menurut Selim, gangguan pasokan air bersih kepada pelanggan akibat pasokan air baku tercemar solar dan oli. Serta menurunnya pasokan air baku yang diterima Aetra dari Perum Jasa Tirta (PJT) II.
“Penurunan pasokan tersebut sebagai dampak pengalihan aliran air dari Pintu Air Bendungan Bekasi yang membanjiri warga. kondisi ini mengakibatkan produksi air bersih Aetra mengalami penurunan secara signifikan," kata Selim.
Pencemaran air baku tersebut, lanjutnya, berakibat produksi air bersih di dua IPA Aetra terhenti sejak tanggal 18 Januari 2013 pada pukul 17.20 hingga 19.30 untuk IPA Buaran yang biasanya menghasilkan air bersih 5.000 liter per detik.
Lalu produksi air bersih juga terhenti di IPA Pulogadung pada pukul 18.30 hingga 21.00, padahal IPA ini kalau berfungsi mampu mengalirkan 4.000 liter per detik. Kemudian pencemaran kembali terjadi pada hari ini, Sabtu (19/1/2013), sehingga mulai 09.00 IPA Buaran kembali stop memproduksi air bersih. [ton]
Add to Cart