Shanghai, KompasOtomotif - General Motors (GM) mengajak mitra kerjanya di China, SAIC Motor Corporation untuk memproduksi mobil murah untuk dipasarkan di Asia Tenggara, khususnya Indonesia dan Thailand. Hal tersebut disampaikan bos baru General Motors China, Bob Socia, yang dipercaya menduduki jabatan mulai 1 Oktober lalu menggantikan Ken Wale.
Dalam sebuah wawancara di Shanghai dan dilansir Autonews China, akhir pekan lalu, Socia mengatakan, SAIC mampu memproduksi mobil dengan banderol 30.000 yuan (Rp 46,2 juta). Keahlian ini penting sebagai salah satu usaha GM menyuguhkan mobil dengan banderol pas untuk kalangan kelas menengah yang terus bertambah di China, India dan Indonesia.
"Produk yang kita siapkan hasil kerjasama dengan SAIC untuk pasar di luar China diterima di negara berkembang," jelas Socia, yang juga mengepalai operasional GM di India dan Asia Tenggara.
Saingan berat
Socia melanjutkan, GM dan SAIC kerjasama menggabungkan kekuatan untuk menembus pasar di negara berkembang, terutama Asia Tenggara. "Seluruh Asean saat ini sudah matang dan punya karakteristik yang sama," jelas Socia. Dari seluruh negara Asean, GM dan SAIC mengaku sangat tertarik kepada Thailand dan Indonesia.
Asia Tenggara sampai kini menjadi salah satu kawasan terberat bagi GM untuk bersaing dengan merek-merek Jepang yang sangat mendominasi pasar. Di Indonesia saja, 90 persen total pasar dikuasai merek Jepang dan tahun ini pasar sudah menembus 1 juta unit. Sedangkan GM baru memulai kembali produksinya di Pondok Ungu, Bekasi, Jawa Barat tahun depan.
Dalam 11 bulan pertama, GM baru menjual 4.624 unit mobil di Indonesia. "Bukannya kami tidak bisa mengerjakan ini sendiri. Kami tengah mempelajari seluruh kemungkinan yang ada," lanjut Socia, termasuk menjalin kerjasama dengan SAIC di Indonesia.
GM mengemukan hal tersebut karena ingin membuat mobil dengan harga terjangkau. GM sampai saat ini belum mengumumkan banderol Spin, MPV 7-penumpang yang akan diproduksi di Indonesia. Socia hanya mengatakan, mobil boxy, memuat banyak orang menjadi model laris di negara ini (Indonesia).
"Kami tegaskan lagi, Anda harus benar-benar menemukan titik proporsional yang tepat untuk bisa bersaing dan membuat gebrakkan terhadap merek Jepang," lugas Socia.
Thailand
Sosia mengeluarkan pernyataan tersebut karena SAIC berencana menjalin kerjasama dengan perusahan lokal Thailand, Charoen Pokphand Group membangun pabrik perakitan baru berkapasitas 50.000 unit per tahun. Di sisi lain, kerjasama GM dan SAIC juga sudah mulai bergulir di India untuk menjual mobil komersial murah.
Penjualan GM di India anjlok 21 persen pada paruh pertama tahun fiskal ini (dimulai April 2012). GM dan SAIC dalam proses mengubah produksi dua mobil kompak murah yang dijual di China ke setir kanan untuk dikirim ke India. Kedua perusahaan bekerjasama di India sejak 2010 dengan kepemilikan saham 50:50. Namun, Oktober lalu SAIC melepas sahamnya hingga tinggal 9 persen. Kondisi tersebut menandai hubungan yang kurang harmonis kedua perusahan.
Tentang hal yang terakhir, Socia belum mau menjelaskan penyebabnya. Namun, GM memastikan, SAIC akan terus berkomitmen membantu GM untuk mengembangkan mobil dengan harga "terjangkau" India dan negara berkembang lainnya.
Pengumuman pembangunan pabrik baru oleh SAIC di Thailand juga tidak melibatkan GM. "Saya tidak terlalu paham soal ekuitas dan pembagian saham. Pastinya, kami bekerjasama dengan baik dan akan terus melakukannya," lanjut Socia.
Tentang rencana GM ini, Maria Sidabutar, Direktur Hubungan Masyarakat, hanya berkomentar, "GM melihat potensi untuk berkembang di Asean. Khususnya Indonesia dan Thailand. Saat ini kami menjajagi kemungkinan pengembangan pasar di Asean."
Add to Cart