Kamis, 06 Desember 2012

Dinar Berlogo Kasultanan Kasepuhan Diluncurkan



INILAH, Cirebon - Sudah saatnya alat tukar untuk transaksi jual beli kembali menggunakan Dinar dan Dirham, sebagai alat tukar yang sesungguhnya.

Semangat itu terpancar di ruang Wetan Keraton Kasepuhan, Cirebon, Kamis (6/12) siang. Tokoh Islam asal Spanyol, para penggusaha bersama Sultan Sepuh XIX Keraton Kasepuhan Cirebon PRA Arief Natadiningrat, melaunching sekitar 30 ribu keping alat tukar berbahan dasar emas (Dinar) dan alat tukar berbahan dasar perak (Dirham) yang berlogo kesultanan kasepuhan CIrebon.

Selain jajaran Kesultanan Kasepuhan Cirebon, kegiatan itu dihadiri oleh Prof Umar Ibrahim Vadillo, cendekiawan muslim asal Spanyol yang mempelopori kembalinya Dinar dan Dirham, Direktur Wakala Induk Nusantara (WIN) Zaim Sayyidi, Ketua Nasional Jaringan Wirausahawan Pengguna Dinar dan Dirham (Jawara) Abdarrahman, dan lainnya.

Melalui terjemahan Zaim Saidi, Vadillo dengan bahasa Inggrisnya menyampaikan, Dinar dan Dirham sangat berguna sebagai alat tukar yang tak akan pernah mengalami inflasi sebagaimana dialami oleh berbagai mata uang saat ini.

Dinar dan Dirham dianggap sebagai alat tukar yang cocok untuk diterapkan di dunia. “Namun, pascajatuhnya Kekhalifahan Usmani Turki (1924), kedua mata uang berbahan logam mulia ini perlahan menghilang. Dunia beralih menggunakan uang kertas, sistem mata uang yang tidak bersandar pada emas dan perak. Sehingga dampaknya adalah sangat mudah terkena inflasi,” katanya.

Dia coba memberikan contoh dengan kondisi rupiah yang sebetulnya tidak memiliki nilai apa-apa. Dia sangat prihatin, mata uang kertas yang selama ini beredar, sudah tanpa disadari tidak memiliki nilai apa-apa. Karena dalam produksinya, hanya dibatasi oleh aturan konvensional antarpemimpin negara besar, khususnya mereka para pencetak uang kertas.

“Semisal Amerika Serikat, di semasa pemerintahan Presiden Barrack Obama saja sudah mencetak sedikitnya 1000 triliun dolar di sana. Hal itu lah yang sebetulnya membuat mata uang kertas saat ini tidak ada nilainya. Berbeda dengan dinar dan dirham yang stabil mengikuti perkembangan harga emas dan perak,” katanya.

Pentingnya untuk kembali menggunakan alat tukar berupa Dinar dan Dirham, menurut Vadillo, adalah untuk memerangi perkembangan riba (bunga) di semua bank konvensional. Karena sesungguhnya, perekonomian dunia semakin hancur lantaran perkembangan riba yang semakin liar.

“Padahal dalam Alquran sudah dijelaskan bahwa Allah menghalalkan perdagangan dan mengharamkan riba. Sehingga dengan Dinar dan Dirham ini kita umat Muslim akan bisa memerangi riba,” ujar pria berusia 45 tahun itu.

Vadillo menjelaskan, koin Dinar dan Dirham yang diproduksi dengan mencantumkan logo Kasultanan Kasepuhan itu dicetak di Amerika Serikat, namun untuk desain di Kazakstan. “Kita memilih Amerika karena memang tingkat keamanan yang kita utamakan, dan sementara ini, tingkat keamanan di sana sangat tinggi,” katanya.

Sementara itu, Sultan Sepuh XIV Pra Arief Natadiningrat bersyukur atas dipilihnya Cirebon sebagai daerah yang dipercaya untuk mengembalikan kejayaan Dinar dan Dirham yang memiliki nilai sekitar Rp2,5 juta untuk 1 dinar dan Rp70 ribu untuk 1 dirham. Terlebih jika melihat dari segi sejarah, Sunan Gunung Jati pun pada masa hidupnya menggunakan alat tukar Dinar dan Dirham.

“Koin ini adalah koin yang sama jenisnya dengan apa yang digunakan Kanjeng Sunan Gunung Jati pada masa itu. Oleh karenanya kami memiliki kewajiban untuk melestarikan Dinar dan Dirham,” katanya.

Dengan melihat kondisi perekonomian di beberapa negara besar yang tengah mengalami krisis, kata Sultan, sudah saatnya Indonesia mengawali reformasi ekonomi dengan beralih menggunakan Dinar dan Dirham sebagai alat tukar. “Sekarang ini beberapa negara besar di dunia sedang diguncang krisis ekonomi. Oleh karena itu, mengantisipasi hal serupa, melalui perdagangan dengan menggunakan Dinar dan Dirham sebagai alat tukarnya. Karena Rasulullah pun menggunakan kedua jenis koin ini,” ujar Sultan.[jul]


Add to Cart