INILAH.COM, Bandung - Penggiat seni asal Institut Teknologi Bandung (ITB) Tisna Sanjaya mengatakan ritual irung-irung yang menjadi inti Festival Cihideung layak dilestarikan.
Sebab, sebagai wujud kearifan lokal ritual itu pun intinya membersihkan lingkungan dari hal yang kotor.
"Ritual irung-irung ini juga ada tujuan khusus. Yaitu menjaga lembur dengan cara khusus. Namun, kegiatan ini harus ditindaklanjuti dengan upaya hukum yang dilakukan pemerintah," kata Tisna saat ditemui di Festival Cihideung, Kamis (15/11/2012).
Dia mengatakan, upaya kultural yang dilakukan warga masyarakat itu harus diimbangi dengan tindakan yang dilakukan pemerintahan daerah. Setidaknya, kata dia, ada upaya hukum yang bisa dilakukan pemerintah agar sumber mata air itu tidak dikuasai oleh segelintir orang.
"Biasanya, mereka yang punya modal dan kapital itu ingin menguasai sumber-sumber mata air. Dan biasanya pula mereka bekerja sama dengan para politisi yang kebanyakan rakus. Padahal, sumber air itu sangat dibutuhkan masyarakat banyak," jelasnya.
Sementara itu, Bupati Bandung Barat Abubakar berjanji pihaknya akan memberikan dukungan agar Festival Cihideung itu berlangsung secara rutin sebagai agenda tahunan. Terlebih, Cihideung dikenal sebagai ikon dan sentra tanaman hias di KBB. "Bekerja sama dengan para tokoh adat setempat, kita akan terus memelihara Festival Cihideung ini dan sediakan anggaran untuk memberikan stimulan," katanya.
Pada Festival Cihideung, seekor domba jantan disembelih. Hal itu dimaksudkan agar ritual kawin cai yang dikenal sebagai ritual irung-irung bisa tercapai.
Ketua Panitia Festival Cihideung Mas Nanu Muda mengatakan ritual kawin cai itu dilakukan di sumber mata air yang menyerupai hidung yang terletak di Kampung Panyairan, Desa Cihideung Kecamatan Parongpong Kabupaten Bandung Barat (KBB).
"Ritual kawin cai ini disimbolkan bersatunya antara dunia lelaki dan perempuan. Kokolot baheula memang punya kreativitas tersendiri untuk memberikan simbol-simbol dalam kehidupan. Perempuan disimbolkan dengan dunia basah, air, atau dunia atas. Sedangkan, lelaki disimbolkan dengan dunia kering, tanah, atau dunia bawah. Dengan adat kawin cai ini merupakan simbol bersatunya lelaki dan perempuan untuk kesuburan," paparnya.
Menurutnya, inti dari ritual itu berdoa kepada Tuhan YME agar tanah di lingkungan sekitar subur. Darah dari domba yang disembelih itu pun sengaja mengalir sepanjang selokan sumber mata air.
Dia mengatakan ritual tersebut ada di masyarakat Cihideung sebagai sentra tanaman hias di KBB Sejak 1932 silam. Tak hanya ritual irung-irung, dia mnyebutkan warga Cihideung pun memiliki kesenian khas, yakni sasapian. Sapi yang terbuat dari rangka bambu itu sengaja diarak usai ritual dilaksanakan. Kenapa sapi, Nanu menyebutkan hewan berkaki empat itu diyakini warga sebagai lambang ketangguhan.[jul]
Add to Cart