Tokyo, KompasOtomotif — Suzuki Motor Corporation menghentikan penjualan mobil di Amerika Serikat karena produk-produk yang dipasarkan tak bisa mengangkat profit ke titik terendah. Penguatan nilai tukar yen terhadap dollar AS yang berkepanjangan memaksa Suzuki memangkas keuntungan dan tidak bisa bersaing dengan model lain.
Suzuki resmi dinyatakan gulung tikar di AS setelah mengisi klausul Chapter 11 yang isinya proteksi kebangkrutan, dan ini pernah juga dilakukan GM dan Chrsyler pada 2008 ketika krisis menghantam perekonomian AS. Dengan dihentikannya itu, hal tersebut tentu jadi catatan "buruk" bagi Suzuki setelah kali pertama beroperasi pada 1985 dengan rekor penjualan tertinggi 102.000 unit pada 2007.
Keputusan Suzuki untuk angkat kaki dari pasar AS mencerminkan posisi perusahaan yang tidak berkembang, seperti penjualan unit rendah, jumlah model minim, ongkos produksi yang tinggi, serta ketatnya regulasi yang dikeluarkan pemerintah pusat dan daerah. Suzuki, yang jago di segmen mobil kompak dan sudah terbukti sebagai pemimpin penjualan di India, kini memutuskan hanya fokus menggarap sepeda motor, all-terrain vehicle (ATV), dan mesin perahu di AS.
Suzuki pernah mau bangkit dari keterpurukan dengan mengandalkan sedan menengah Kizashi. Namun, rencana ini pupus karena krisis global yang melanda pada 2008, termasuk harga minyak dunia yang melesat tinggi. Untuk mempertahankan bisnisnya di Amerika, Suzuki memutuskan melebur dengan cabang di Kanada pada 2009.
Impor
Keuntungan dari impor kendaraan yang dikirim dari Jepang terus berkurang, sekaligus merupakan dampak nilai yen yang tinggi. Daya saing Suzuki terus berkurang di segmen mobil kompak, apalagi ditekan oleh rival dari Korea Selatan. Suzuki hanya mencatatkan penjualan 26.266 unit pada tahun fiskal lalu (berakhir pada Maret 2012), merugi sampai 15,8 juta dollar AS (Rp 1,89 miliar). Meski sudah menyatakan mundur dari AS, mereka tetap berkomitmen melanjutkan layanan purna-jualnya.
Rencana gulung tikar juga disampaikan Daihatsu Motor Company di Eropa, yang juga fokus menggarap segmen mobil kompak. Keuntungan yang makin minim membuat anak perusahaan Toyota itu kapok berbisnis di Benua Biru.
Add to Cart