Rabu, 28 November 2012

6,5 Jam Waktu Kerja Hilang Karena Anemia


INILAH.COM, Jakarta - Hampir sekitar 50% pekerja perempuan di Indonesia mengalami anemia, akibatnya pekerja perempuan kehilangan 6,5 jam waktu produktifnya untuk bekerja optimal.


Dirjen Bina Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak, Slamet Riyadi Yuwono mengatakan hal tersebut, Rabu (28/11), usai acara pencanangan gerakan pekerja perempuan sehat dan produktif (GP2SP), di Manhattan Jakarta.


Slamet Riyadi menjelaskan menderita anemia menyebabkan kinerja pekerja perempuan turun 5-10 persen dan perminggunya kehilangan 6,5 jam waktu kerjanya akibat kurang sehat.


Menurutnya, anemia mengakibatkan pekerja menjadi mudah, mudah mengakibatkan kecelakaan sehingga angka absensi meningkat dan kemungkinan apabila hamil akan mempunyai resiko saat melahirkan.


Slamet Riyadi menjelaskan perempuan beresiko lebih tinggi untuk terkena anemia atau kekurangan darah merah dibanding laki-laki karena perempuan mengalami menstruasi.


"Wanita memang cenderung lebih mudah terkena anemia, setiap bulan wanita pasti menstruasi dan ada juga faktor pola konsumsi sehingga gampang mengalami kekurangan zat besi," jelasnya.


Menurutnya kerentanan mengalami anemia mempengaruhi produktivitas seorang wanita, terutama jika ia bekerja.


Data Badan Pusat Statistik 2010 menunjukkan 50,37% perempuan Indonesia menunjukkan perempuan Indonesia berpendidikan sekolah dasar ke bawah. Padahal, tingkat pengetahuan perempuan sangat mempengaruhi kemungkinan perempuan tersebut untuk terkena anemia.


Studi Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) 2001 menunjukkan 26,4% wanita Indonesia usia subur mengalami anemia.


Pekerja perempuan yang sehat merupakan investasi bagi negara. Untuk itu harus dilakukan intervensi dari pemberi kerja. Diantaranya pemberian vitamin penambah darah, sehingga mereka diharapkan akan lebih sehat dan produktif.


"Perusahaan juga wajib memberikan perlakuan khusus bagi pekerja wanitanya yang tengah hamil misalnya penetapan cuti, juga menyediakan tempat untuk memerah ASI (pojok ASI)," ungkapnya.


Untuk mengatasi masalah tersebut, Slamet mengatakan Kemenkes akan meminta perusahaan-perusahaan untuk menyediakan tablet tambah darah bagi pekerja perempuan yang mengalami anemia.


"Jadikan hal ini sebagai investasi, jika perempuan sehat maka produktivitas dan keuntungan perusahaan jelas akan naik," katanya. [mor]


Add to Cart